Beranda / Series 3: Dari Kompetensi ke Modul

Artikel · L2 Developing

Dari Kompetensi ke Modul

1308 kata · sekitar 7 menit baca

Daftar isi
  1. Langkah 1: Tulis Permintaan Course Design yang Lengkap
  2. Langkah 2: Jawab Klarifikasi dan Periksa Data Kompetensi
  3. Langkah 3: Baca Workbook Hasil Course Design
  4. Langkah 4: Minta Modul dan Setujui Judul, ELO, serta Topik
  5. Langkah 5: Pahami Riset Sumber dan Checkpoint Level
  6. Langkah 6: Periksa Modul Sebelum Dipakai Aset Lain
  7. Tips dan Jebakan Umum
  8. Referensi

Series

Proficiency

Cakupan

Series 3 dari 5

Developing (L2)

Course design ADDIE dan modul pembelajaran

ENABLING LEARNING OBJECTIVE (ELO)

Peserta mampu memakai agent untuk menyusun course design dan modul pembelajaran dari satu kompetensi dan level, termasuk memeriksa hasil dan melewati titik persetujuan dengan benar.

Course design dan modul adalah fondasi semua konten. Script video, artikel, dan soal diturunkan dari modul, sehingga kesalahan di tahap ini akan menular ke semua aset. Karena itu, tahap ini bukan sekadar meminta agent membuat dokumen. Anda perlu memberi masukan yang tepat, menjawab pertanyaan klarifikasi, dan memeriksa hasil di setiap titik persetujuan.

Prinsip yang perlu dipegang: mulai dari kompetensi dan level, bukan dari judul materi yang terdengar menarik. Agent mengambil kode, nama, dan key behaviour langsung dari direktori kompetensi, lalu membangun course di atasnya.

Skenario sepanjang artikel ini memakai kompetensi TC-292 Prompt Engineering, level 1 (Fundamental), untuk peserta tim marketing dengan format self-paced di HPL. Contoh hasil skenario ini tersedia di folder simulasi-ngobras-TC292, sehingga Anda bisa membandingkannya dengan hasil Anda sendiri.

Langkah 1: Tulis Permintaan Course Design yang Lengkap

Sebutkan empat hal dalam satu pesan: kompetensi (kode atau nama), level 1 sampai 5, target peserta, dan konteks penyampaian. Contoh: "Desain course TC-292 Prompt Engineering level 1, peserta tim marketing, self-paced HPL." Bila ada batasan, seperti durasi maksimal atau platform asesmen yang hanya mendukung pilihan ganda, sebutkan juga.

Kesalahan umum adalah memakai label lama seperti "Intermediate" tanpa angka. Label lama mencakup dua level sekaligus (Intermediate setara L2 dan L3), padahal kedalaman materi dan soal kedua level itu berbeda. Selalu sebut level spesifik.

Contoh percakapan klarifikasi dalam skenario: agent bertanya apakah peserta sudah pernah memakai alat AI generatif, berapa durasi maksimal per topik, dan apakah platform asesmen hanya mendukung pilihan ganda. Analis menjawab bahwa sebagian besar peserta baru mencoba, durasi maksimal 15 menit per topik, dan asesmen hanya pilihan ganda. Jawaban singkat seperti ini sudah cukup untuk membuat desain jauh lebih tepat sasaran.

Langkah 2: Jawab Klarifikasi dan Periksa Data Kompetensi

Agent akan menanyakan hal yang belum diketahui dalam satu pesan, lalu menampilkan kode, nama, sumber, dan jumlah key behaviour per level. Jumlah key behaviour inilah jumlah course, karena aturannya satu key behaviour menjadi satu course berisi tepat tiga topik. Bila total course lebih dari 15, agent akan menawarkan pengerjaan per level supaya mutu terjaga.

Periksa apakah kompetensi yang ditampilkan memang yang Anda maksud. Bila nama yang Anda sebut tidak ada di direktori, agent tidak akan membuat kompetensi baru; ia akan menawarkan kandidat terdekat. Bila Anda tidak menjawab soal peserta atau batasan, agent memakai default dan mencatatnya sebagai asumsi. Asumsi ini perlu Anda baca.

Langkah 3: Baca Workbook Hasil Course Design

Hasilnya berupa workbook Excel delapan sheet. Skrip pemeriksa menolak workbook bila key behaviour tidak sama persis dengan direktori, bila jumlah course tidak sama dengan jumlah key behaviour, atau bila topik tidak tiga. Artinya, struktur sudah dijamin oleh skrip, dan tugas Anda adalah menilai isinya.

Sheet

Isi

Yang Anda periksa

0 Ringkasan

Gambaran program, asumsi

Asumsi peserta dan konteks sudah benar

1 Analysis

Kondisi awal dan profil lulusan per level

Sesuai dengan peserta sebenarnya

2 Design-Course

Judul course, ELO

Kata kerja ELO tidak lebih rendah dari key behaviour

3 Design-Topik

Tiga topik per course, core information

Topik tidak saling mengulang, kedalaman sesuai level

4 Development

Format dan durasi per topik

Format tersedia di platform

5 Implementation

Urutan dan mode penyampaian

Urutan masuk akal untuk peserta

6 Evaluation

Blueprint asesmen, Kirkpatrick

Contoh soal sesuai tingkat kognitif level

7 Verifikasi

Hal yang wajib divalidasi

Siapa SME yang akan memvalidasi

Tabel 1. Sheet workbook course design dan fokus pemeriksaan

Ingat bahwa core information ditulis dari pengetahuan umum model, sehingga statusnya draf sampai divalidasi SME. Pemetaan level ke durasi dan bentuk asesmen juga masih usulan, bukan standar resmi.

Fokus utama pemeriksaan ada di sheet 2 dan 3. ELO ditulis dengan format ABCD (audience, behaviour, condition, degree). Misalnya, bila key behaviour level 1 berbunyi menjelaskan konsep, ELO tidak boleh turun menjadi sekadar menyebutkan istilah. Tiga topik dalam satu course harus membangun ELO secara bertahap, misalnya dari pengertian, ke komponen, lalu ke contoh penerapan sederhana. Bila dua topik membahas hal yang hampir sama, minta agent memecah ulang.

Langkah 4: Minta Modul dan Setujui Judul, ELO, serta Topik

Modul bisa dibuat lewat dua jalur. Jalur A berangkat dari material sumber yang Anda lampirkan, misalnya deck atau dokumen. Jalur B berangkat dari course plan hasil langkah sebelumnya, lalu agent mencari sumber sendiri. Dalam skenario, permintaannya: "Jadikan modul docx dari course 1 hasil ADDIE ini." Satu modul HPL berisi satu course, yaitu satu key behaviour dengan tiga topik.

Pilih jalur A bila tim sudah punya material yang disetujui SME, karena isi modul akan setia pada material itu. Pilih jalur B bila belum ada material sama sekali. Bila material ada tetapi tidak menutup semua topik, agent memakai keduanya: material Anda diprioritaskan, dan riset hanya mengisi celah. Agent juga akan menanyakan format keluaran bila belum Anda sebut; tanpa jawaban, ia membuat .docx dan .md.

Sebelum menulis, agent berhenti dan menyajikan judul modul (dua sampai tiga alternatif), level, ELO, tiga topik dengan ringkasan satu kalimat, dan metadata yang belum bisa ditentukan. Ini titik persetujuan pertama. Kesalahan umum adalah langsung menjawab "oke" tanpa membaca. Perbaikan di titik ini jauh lebih murah daripada setelah modul jadi.

Langkah 5: Pahami Riset Sumber dan Checkpoint Level

Pada jalur B, agent mencari buku, jurnal, publikasi penelitian, atau artikel yang terbit paling lama lima tahun terakhir, dan menghindari blog vendor serta Wikipedia. Hanya sumber yang benar-benar dibuka yang boleh dicantumkan, dan setiap poin isi disertai kutipan bukti singkat. Semua ini dicatat dalam dokumen riset yang bisa diaudit.

Aturan checkpoint-nya: untuk L1 dan L2, agent lanjut menulis tanpa berhenti, tetapi dokumen riset tetap disimpan. Untuk L3 sampai L5, agent wajib berhenti dan menunggu reviewer menyetujui dokumen riset. Skrip pemeriksa bahkan menolak naskah L3 sampai L5 yang status risetnya belum disetujui. Dalam skenario TC-292 level 1, agent langsung lanjut, tetapi Anda tetap sebaiknya membuka dokumen risetnya sekilas.

Mengapa level tinggi wajib ditinjau? Materi L3 ke atas berisi analisis, studi kasus, dan rekomendasi yang lebih mudah salah tanpa terlihat salah. Reviewer yang menguasai bidangnya bisa menolak sumber yang lemah sebelum isinya menyebar ke modul, video, artikel, dan soal.

Langkah 6: Periksa Modul Sebelum Dipakai Aset Lain

Modul dibuat dalam format .docx dan .md. Format .md selalu dibuat karena dibaca oleh skill turunan seperti script video dan artikel. Bila diminta, agent juga membuat .pptx dari naskah yang sama, sehingga ketiga format tidak saling berbeda.

Cara memeriksanya: buka .docx, baca satu topik penuh, lalu tanyakan pada diri sendiri apakah peserta level ini bisa memahaminya tanpa bantuan. Untuk level 1, tidak boleh ada analisis lanjutan atau langkah teknis rinci. Cocokkan juga setiap angka dan istilah dengan dokumen riset. Bila Anda menemukan klaim yang tidak ada sumbernya, minta agent menandainya atau menghapusnya.

  • Konsep setiap topik ditulis sebagai penjelasan utuh, kira-kira 290 sampai 350 kata, bukan daftar istilah.
  • Rangkuman berisi tepat dua poin per topik, dan ada minimal lima soal pilihan ganda per topik.
  • Referensi tidak lebih tua dari lima tahun tanpa alasan, dan tidak ada sitasi yang tampak dikarang.
  • Bagian yang ditandai "mohon dilengkapi" dan daftar hal yang perlu diperiksa di akhir pesan agent sudah ditindaklanjuti.

Tips dan Jebakan Umum

  • Kerjakan satu level dulu bila jumlah course banyak.
  • Lampirkan material sumber bila ada; riset hanya mengisi celah.
  • Struktur docx untuk level selain L3 masih usulan. Sampaikan bila formatnya belum sesuai kebutuhan tim.
  • Model konten baru tersedia untuk L1 sampai L3. Untuk L4 dan L5, agent akan menyampaikan bahwa modelnya belum ada.

Course design dan modul yang sudah Anda periksa adalah bahan baku yang siap diolah. Sebelum lanjut, pastikan SME sudah atau akan memvalidasi isinya. Series 4 akan mengubah modul ini menjadi script video, video, artikel, dan quiz, lalu mereview hasilnya.

Referensi

Telkom Corporate University (2026) Skill instructional-design-addie dan modul-pembelajaran-tcuc (SKILL.md). Dokumen internal, School of Go To Market (SoGTM).

Telkom Group (2026) Playbook Direktori Kompetensi Edisi 11.1. Dokumen internal.