Series | Proficiency | Cakupan |
Series 1 dari 5 | Fundamental (L1) | Konsep agent, skill, dan cara kerja Learning Dev Agent |
ENABLING LEARNING OBJECTIVE (ELO) Peserta mampu menjelaskan perbedaan agent dan skill, tiga lapis penyusun Learning Dev Agent, fungsi sembilan skillnya, serta batasan yang perlu diperhatikan saat memakainya. |
Tim Learning Development menangani banyak pekerjaan sekaligus: merancang course, menyusun modul, memproduksi video dan artikel, menulis soal, sampai mereview hasil vendor. Program Hyper Personalized Learning (HPL) saja menargetkan sekitar 4.000 konten. Learning Dev Agent dibuat supaya cara kerja dan standar mutu yang selama ini melekat pada satu orang bisa dipakai seluruh tim. Artikel ini menjelaskan apa itu agent, apa bedanya dengan skill, bagaimana agent ini tersusun, dan apa saja batasannya.
1. Agent dan Skill: Dua Hal yang Berbeda
Agent adalah Claude yang diberi briefing tentang sebuah peran: siapa pemilik perannya, konteks pekerjaannya, dan bagaimana ia harus bersikap. Dengan briefing itu, agent bisa memahami permintaan, bertanya bila ada yang belum jelas, memilih langkah kerja, dan menilai hasilnya sendiri. Agent mengerjakan seluruh ragam pekerjaan peran tersebut, termasuk memberi pendapat dan menjadi partner berpikir.
Skill adalah paket prosedur untuk satu jenis pekerjaan. Isinya instruksi langkah demi langkah (berkas SKILL.md), skrip pemeriksa, template, dan contoh hasil. Skill dipanggil agent ketika permintaan cocok, misalnya saat diminta membuat course design atau quiz. Cara paling mudah membedakannya: agent ibarat staf berpengalaman, sedangkan skill ibarat SOP dan template yang tersimpan di lemari staf tersebut.
Aspek | Agent | Skill |
Apa | Claude yang diberi briefing peran | Paket prosedur satu jenis pekerjaan |
Tugas | Memahami permintaan, bertanya, memilih langkah, menilai hasil | Menjalankan satu pekerjaan dengan cara yang sama setiap kali |
Cakupan | Semua pekerjaan peran | Satu jenis keluaran, mis. workbook ADDIE |
Analogi | Staf berpengalaman | SOP dan template di lemari staf |
Tabel 1. Perbedaan agent dan skill
Keduanya saling membutuhkan. Tanpa skill, agent tetap bisa berpikir tetapi hasil produksinya tidak seragam. Tanpa briefing, skill tetap berjalan tetapi tidak memahami konteks dan sikap yang diharapkan tim.
2. Tiga Lapis Penyusun Learning Dev Agent
Learning Dev Agent tersusun dari tiga lapis. Lapis pertama adalah briefing (berkas CLAUDE.md) yang memuat peran, tujuan, sikap asisten, standar review per format konten, dan pola keputusan dari kasus nyata (Telkom Corporate University, 2026). Briefing inilah yang membuat agent menguji asumsi pengguna, jujur soal hal yang belum pasti, dan menyesuaikan jawaban dengan lawan bicara.
Lapis kedua adalah skill produksi, yaitu sembilan paket prosedur untuk tiap jenis keluaran. Lapis ketiga adalah bahan acuan: direktori kompetensi, panduan pengembangan modul, template, dan contoh hasil terbaik. Ringkasnya, briefing menentukan sikap, skill menentukan prosedur, dan bahan acuan menentukan fakta. Ketiganya dipisah supaya satu lapis bisa diperbarui tanpa membongkar lapis lain.
3. Alur Produksi dan Sembilan Skill
Skill disusun mengikuti alur produksi konten HPL. Permintaan berupa kompetensi dan level diolah menjadi course design, lalu modul. Modul menjadi sumber semua aset turunan, sehingga video, artikel, dan soal tetap konsisten satu sama lain. Di setiap tahap ada review manusia sebelum pekerjaan berlanjut.
- Course design (instructional design ADDIE): kompetensi dan level menjadi workbook, satu key behaviour menjadi satu course berisi tiga topik.
- Modul pembelajaran: modul .docx, .md, atau .pptx dari material sumber atau dari course plan beserta riset.
- Script video, TTS script enhancer, dan video builder: dari modul menjadi script, naskah suara, lalu video jadi.
- Artikel pembelajaran dan bank soal: artikel per section serta quiz, exam, dan assessment bilingual.
- Review konten dan FK/JK: pemeriksaan mutu konten serta dokumen pengadaan pendukung.
4. Batasan yang Perlu Diketahui
Agent ini belum selesai, dan penting untuk mengetahui batasnya. Model konten baru tersedia untuk level 1 sampai 3. Skill audio belum ada. Setiap skill masih dijalankan satu per satu, karena orkestrasi otomatis dari satu permintaan ke semua aset belum dibangun (Telkom Corporate University, 2026). Selain itu, semua hasil agent berstatus draf: isi yang ditulis dari pengetahuan umum wajib divalidasi SME, dan keputusan akhir tetap berada pada reviewer manusia.
Pada level Fundamental, peserta cukup mengenali komponen dan fungsinya, tanpa perlu memasang atau mengoperasikannya. Langkah teknis itu dibahas pada series berikutnya.
Sebagai penutup, Learning Dev Agent adalah gabungan briefing yang memberi sikap, skill yang memberi prosedur, dan bahan acuan yang memberi fakta. Memahami perbedaan agent dan skill membantu Anda tahu kapan cukup bertanya kepada agent dan kapan sebuah skill sedang bekerja. Series 2 akan membahas cara memasang agent ini di tempat Anda, termasuk apa saja yang perlu disiapkan.
Referensi
Telkom Corporate University (2026) CLAUDE.md: Briefing Asisten Learning Development. Dokumen internal, School of Go To Market (SoGTM).